profile-image

'Ummu_qonita'

hoby baca
0
Cerita
0
Joy
 

Fan board

Dy Rain
Assalamualaikum, halo kak mampir di ceritaku yuk "Alumni Kepahitan Hidup " dan "Bukan Anak Kebanggaan Papa", makasih semoga suka ya kak :)
2
Author Mi
Salam kenal, Kak. Kalau berkenan boleh baca cerita saya yang berjudul. *Akhirnya Istriku Menyerah Setelah Tidak Pernah Aku Hargai* Terima kasih.
1
She Irma Suryani
Assalamualaikum kak 😘 Mari mampir dan baca cerita ku juga ya Kak 🙏😘
1
Her_ika
trmksh 😊🙏
3
Kinderjoy Estrin
terim kasih banyak, kak❤️
3
Nisa Nurhalimah💜
Hello kak, salam kenal. Jika berkenan, mampir yu ke cerita ku. Sudah ada 3 judul. * LUKA HATI ISTRI (tamat) * MISTERI RUMAH BERLANTAI * JANDA SEBELAH Semua cerita GRATIS, ya kak. Terimakasih🤗
1
asooka
haii kak 💙 salam kenal ya 🙏💖 support ceritaku yukk - Membalas Perlakuan Anak dan Menantuku (Harta membuat anak dan menantunya menjadi gelap mata, apa yang harus di lakukan Nasti?) -Apa Yang Terjadi Pada Hanumku? (Apa penyebab Hanum si gadis manis hingga menjadi penderita ODGJ?) terimakasih 💖🙏💖
1
Reffi Ninang Aryani
BUKAN BAYANGAN PERMAISURI BAB 1 TISU BERCAK GINCU DI MOBIL SUAMIKU Pov. Sarah Hari ini aku harus melewatkan beberapa jam terakhir jadwal mengajarku di kampus.  Aku harus menjemput Shiena-anak semata wayangku, yang telah mengikuti pentas seni di sebuah festival yang diadakan di sanggar les tari yang ia ikuti. Pak Sukri, sopir pribadi keluargaku sedang cuti untuk pulang kampung. Jadi, siang ini, harus aku sendiri yang menjemput anakku dan meninggalkan mahasiswaku dengan tugas yang sudah kutinggalkan untuk mereka. "Ma, itu kok seperti mobil Papa?" ucap Shiena tiba-tiba, di dalam mobil. Ia memandangi mobil yang dibilang mobil papanya itu sampai memutar kepalanya nyaris seratus delapan puluh derajat, ke arah belakang. "Mana mungkin sih, sayang. Papa kan lagi keluar kota, kerja. Cari uang buat kita. Buat Shiena, buat Mama juga. Besok pagi baru Papa kembali," balasku, tanpa menghiraukan mobil yang dimaksud oleh anakku itu. Aku memilih untuk fokus menyetir karena jalanan sore hari yang semakin padat merayap. Apalagi rintik-rintik gerimis manja yang membuat jalanan sedikit berkabut, turut serta menambah pandanganku kian terhalang. Muda-mudi juga lalu-lalang turut menghidupkan suasana jalan dengan motor-motor mereka. Hiruk pikuknya kota ini semakin terasa saja. "Shiena nggak salah lihat, Ma! Tadi itu beneran deh, mobil Papa. Shiena kan pernah menempel stiker kecil di–" "Pasti Shiena sudah rindu ya, sama Papa! Besok siang kan Papa sudah pulang!" potongku tanpa melihat ke arahnya. Mataku tetap tertuju ke arah jalan.  Ya, suamiku adalah seorang pengusaha kayu yang sukses di bidangnya. Ia memiliki satu buah pabrik kayu besar di kota kami dan satu buah pabrik lagi berada di luar kota. Jadi, setiap minggunya, ia harus hilir mudik mengurusi kedua pabrik itu. Kriiinggg…. Kriiinnnng…. Tiba-tiba, ada panggilan telepon dari suamiku.  "Nah, ini Papa telepon, Shien!" kutunjukkan layar ponselku kepada Shiena. Kulempar senyum kecil untuk anak gadisku yang sekarang sudah duduk di kelas tiga bangku sekolah dasar itu.  Segera kutekan tombol hijau pada ponselku, sebelum nada panggilan itu habis untukku. Segera kuraih headsat dan kusematkan ke dalam telingaku dengan tangan kiriku. [Assalamuallaikum, sayangku!]  Kubuka panggilan telepon untuk suamiku dengan sebuah panggilan mesra yang selalu kuberikan untuknya. Tak sengaja juga kuulas sebuah senyum merekah dari bibirku, menunjukkan kebahagiaan. Sekalipun ia tak melihatnya. Kerinduan yang terpendam selama enam hari, berasa sudah tak bisa terbendung lagi. Aku sangat merindukannya. Aku yakin sekali jika Mas Amar pun begitu. Sepuluh tahun mengarungi bahtera rumah tangga, tak pernah ada cek cok yang berarti untuk kami. Keluarga kecil yang sangat harmonis. Kami sangat bahagia. [Waallaikumsalam, istriku yang paliiiiiing kucintai di dunia ini. Kamu sedang apa?]  Kudengar respon yang menyenangkan dari sebrang sana. Sebuah respon yang dapat melelehkan gejolak rinduku untuk suami idamanku. [Oh, ia, ini Pa, Pak Sukri kan selesai cuti besok, jadi Shiena nggak ada yang jemput. Ini Mama sekarang sedang jalan pulang, habis jemput Shiena. Papa cepetan pulang dong! Ini Shiena sudah rindu katanya, lho]  Paparku kepadanya. Kubumbuhi sedikit ucapanku untuk merayunya. [Jemput? Sore begini?] Kudengar ia sedikit heran dengan kepulangan kami yang sudah lumayan sore ini. [Ia. Shiena hari ini kan tampil menari di sanggar tarinya. Sampai sore. Jalanan juga lumayan macet, Pa] [Uhuk-uhuk. Sanggar tari?] Tiba-tiba kudengar batuknya ketika mendengar jawabanku. [Papa batuk? Sehat kan, Pa?] [Ehm, sehat-sehat. Ya, ya. Ya sudah. Papa tutup dulu teleponnya kalau kamu sedang nyetir ya! Bahaya juga! I love you my sweety girl] [Ya. Mama tunggu Papa pulang ya! Love you so much. Muah] [Ya, istriku tersayang. Muah. Bye] Tut tut tut "Hahh… papamu besok pulang, Shien! Tadi itu bukan mobil Papa! Papa masih di luar kota!" ulangku kembali kepada Shiena seraya menghela nafas lega. Kuusap belakang kepalanya untuk menenangkannya. Mungkin memang Shiena sudah rindu dengan papanya. Tadi kulihat beberapa murid sanggar tari memang dijemput papanya. Namanya juga anak kecil, mungkin ia terbawa suasana oleh pemandangan itu. ***** "Yuk, turun, Shien!" ajakku. Tak terasa setelah menerjang gerimis dan kemacetan jalanan di sore hari, kami pun sampai rumah kami dengan selamat. Ting tong ting tong Kutekan bel pintu utama untuk memanggil Mbok Ijah, asisten rumah tangga kami. "Oh, nyonya! Non! Sini Mbok bawakan kopernya. Sini Non, Mbok bawakan tasnya!" Diraihnya barang bawaan kami oleh Mbok Ijah, dibawanya masuk ke kamar kami masing-masing. ***** "Nah, Shiena mandi dulu ya! Nanti kita shalat berjamaah. Kalau sudah, nanti kita makan malam bareng. Malam nanti Shiena boleh menonton televisi kesukaan Shiena. Besok Shiena kan libur. Dan Shiena tadi juga sudah maksimal menampilkan bakat Shiena. Jadi, malam nanti, Shiena boleh deh, libur belajar, dan menonton televisi. Oh ya satu lagi, nanti Mama telepon Papa, besok kita ajak Papa jalan-jalan ke tempat yang Shiena suka. Shiena mau?" tawarku begitu panjang kepada Shiena sore ini. Tak lupa tawaranku kuiringi dengan nada yang renyah dan ceria. Aku ingin menghiburnya. Sepertinya ia terlihat murung setelah aku tidak mempercayai ucapannya siang tadi. Namun, aku memang tak percaya jika yang Shiena lihat adalah mobil papanya. Jelas-jelas Mas Amar sedang di luar kota, mengurus pabriknya yang disana. Dan aktivitas seperti itu sudah berlalu berapa tahun saja. Namun, tidak ada yang patut dicurigai atau dikhawatirkan tentang hal itu. Kami saling mempercayai satu sama lain. Aku begitu mencintai Mas Amar. Pun sebaliknya. Aku dapat merasakan cinta sepenuhnya dari suamiku itu. ***** Malam mulai berjingkat-jingkat menunjukkan gelapnya. Semilir angin dingin sedikit menyibak-nyibakkan tirai jendela kamar Shiena. Ya, malam ini aku sedang meninabobokkan Shiena. Ia selalu meminta didongengi sebelum ia tidur. "Bentar ya Shien, Mama tutup jendela dulu. Anginnya lumayan kenceng!" Aku segera bangkit dari ranjang pink milik Shiena. Kututup jendela kamarnya.  Di kaca jendela, kutemukan sebuah  lukisan tangan. Lukisan yang bergambar sebuah keluarga yang bertuliskan, Papa, Mama, Shiena.  Gambar yang cantik. "Cantik gambarnya, Shien," pujiku kepada putri cantikku. Kulihat Shiena tak tertarik dengan pujianku. Kulepas gambar itu lalu kubawa mendekat ke arahnya. "Ini Papa, Mama, sama Shiena. Bagus lho gambarnya. Kalau  Mama jadi Bu gurunya Shiena, Mama kasih nilai sembilan puluh lima untuk gambar cantik ini," rayuku dengan nada renyahku kembali. "Mama kan dosen. Bukan Ibu guru!" ketusnya, sewot. Ia nampak masih menekuk wajahnya. Shien, kok Shiena murung terus dari tadi sore. Kenapa? Mama punya salah sama Shiena? Shiena marah sama Mama?" tanyaku halus. Kusibakkan poni rambut yang mulai menutup netranya. Kusematkan rambut panjangnya ke belakang telinganya. Shiena hanya menunduk. Ia tekuk kakinya dan ia letakkan dagunya di atas lututnya. Ia bergeming. Tak mau menjawab pertanyaanku. "Em… tadi Shiena lihat mobil Papa beneran?" tanyaku. Aku putuskan untuk pura-pura mempercayai apa yang dilihatnya tadi siang. Shiena mengangguk. "Em, Shiena… kan yang punya mobil seperti Papa itu banyak. Siapa tahu, mobilnya hanya mirip saja!" Aku mencoba memberi pengertian kepadanya. Shiena tetap diam. Kali ini ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Em, oke deh. Kok Shiena yakin kalau itu mobil Papa? Coba deh Shiena ceritakan ke Mama!" Kali ini aku lebih memberi kesempatan untuk mengutarakan keyakinannya itu. "Shiena kan pernah buat stiker berbentuk hati berwarna merah di sekolah." "Heem, terus?" Aku menyimak sepenuhnya ucapannya, untuk menenangkan hatinya. "Shiena tempel stiker itu di kaca mobil Papa. Di kaca pintu mobil Papa. Dan kemarin, mobil yang Shiena lihat itu ada stikernya juga," terang Shiena dengan mendongakkan wajahnya ke arahku. Wajah polos yang tak mungkin bohong itu pun nampak begitu jelas menyolok mataku. Kali ini ucapan Shiena sedikit menyentil pikiranku. "Stiker hati berwarna merah juga?" tanyaku yang berbalik penasaran. Lagi, Shiena mengangguk. "Di bawah stiker itu kan ada huruf S dan P. Shiena tempel dua huruf itu, Ma! Dan tadi juga ada dua huruf itu," terangnya kembali dengan pelan. "Oh ia, Mama tahu. Besok kita tanya ke Papa, ya!" pungkasku. Aku ingin mengakhiri obrolan yang kian larut ini. Sebelum beranjak tidur, Shiena sudah menonton televisi dengan waktu yang lumayan cukup lama.  Kini saatnya ia harus mengistirahatkan tubuhnya. Kututup tubuhnya dengan selimut bulunya. Kukecup keningnya. Dan kumatikan lampu yang terletak di meja sudut kamarnya. Aku pun keluar dari ruangan ini setelah kupastikan ia terlelap dalam tidurnya. Tiba-tiba ucapan cerita Shiena mengenai mobil papanya terlintas begitu saja dalam benakku. "Hufth… namanya juga anak-anak. Pasti dia salah lihat!" Segera kutepis rasa yang akan mengganggu pikiranku itu. Dan besar keyakinanku bahwa Mas Amar masih di luar kota. Biasanya setelah Subuh ia baru akan berangkat pulang. Pukul delapan pagi selalunya kami sudah berkumpul kembali di rumah ini.  ***** "Tuan sudah pulang, Nya!" ucap Bi Ijah di tengah sarapan kami. Kulihat ia sudah menjinjing koper suamiku.  Pagi ini kami sarapan setengah delapan. Hari Minggu aku libur mengajar. Shiena juga libur sekolah. Jadi, kami sarapan lebih siang dari hari biasanya. Aku juga sudah mandi dan dandan cantik untuk menyambut kepulangan suamiku dari luar kota itu. "Oh ya, Bi. Terima kasih, ya! Shien, Mama keluar dulu menyambut Papa, ya!" tuturku kepada Shiena yang tengah asik melahap sereal kesukaannya. ***** "Hai, sayangku!" Aku sambut kepulangan Mas Amar dengan senyum yang kubuat semanis mungkin. Aku selalu ingin terlihat sempurna di mata suamiku. Hal itu aku lakukan karena aku yakin, banyak perempuan gatal atau kesepian yang menginginkan sosok lelaki seperti suamiku. Dibalik wajahnya yang tampan, ia adalah seorang lelaki yang sukses dalam karirnya. "Hai, sayangku, istriku," respon suamiku disertai dengan pelukan dan kecupan manja di wajahku. Dikecupnya setiap sudut wajahku, seolah tak ada yang bersisa. "Bisa saja kamu, Pa!" godaku dengan sedikit kucubit perutnya. Sungguh rinduku sudah membuncah sekali kepadanya. "Aow, sakit, Ma!" teriaknya. Ia usap-usap perut bekas cubitanku yang tertutup kemeja itu. "Kangen nggak sama Mama?" godaku kembali.  "Enggak! Enggak kebendung lagi kangennya!" selorohnya seraya mencubit pipiku. "Yuk, kangen-kangenannya di dalam saja!" ajakku. Kami pun masuk rumah, seraya kugamit pinggangnya. Tangan Mas Amar pun merangkul pundakku. "Ye…. Papa pulang! Papa pulang!" Shiena pun berlari mendekati papanya. Ia julurkan kedua tangannya dan melompat tinggi. Digapainya tubuh Shiena dan dipeluk cium oleh papanya di atas gendongan. "Duh, yang sudah kangen banget sama papanya!" godaku kepada Shiena. Shiena memang dekat sekali dengan papanya, sekalipun papanya jarang berada di rumah. Mas Amar sangat pandai mengambil hati Shiena. Ia dapat menunjukkan sosok ayah yang tetap menyayangi putrinya dengan semaksimal mungkin walau di tengah kesibukannya bekerja mencari nafkah untuk keluarga. "Shien, turun dulu ya! Papa kan capek. Papa beres-beres dulu terus nanti Papa nyusul sarapan di meja makan, bersama. Ya? pintaku halus. "Baik, Ma!"  Sepertinya Shiena mengerti maksud dari perkataanku. ***** "Sudah mandi belum, Pa? Kalau tadi belum sempat mandi, aku siapkan handuk." Aku menawarkan seraya membuka kancing kemejanya. "Papa belum mandi ini, Ma. Badan juga lengket nggak nyaman sekali. Papa mandi dulu saja. Nanti Papa susul sarapan di bawah, ya!" paparnya seraya mengusap-usap lehernya. Mas Amar memang terlihat lusuh sekali tubuhnya. Rambutnya juga terkesan lengket dan berminyak. "Kasihan dia, pasti dia lelah sekali setiap minggu harus hilir mudik kesana kemari," batinku. "Ya, sayang. Mama temani Shiena makan nanti Papa nyusul ya!" Kukecup bibirnya sebelum aku kembali ke meja makan. Mas Amar pun membalas kecupan singkatku. Kuulas senyum untuknya. "Oh ia lupa. Shiena hari ini minta jalan-jalan. Kamu capek nggak?" tanyaku mengiba dan sedikit manja. "Siap, bos!" jawabnya bersemangat.  "Syukurlah!" jawabku lega. ***** Di meja makan. "Mbok…" "Ia Nya!" "Em, saya minta tolong, tolong bersihkan mobil Tuan, ya! Karena sebentar lagi kita mau jalan-jalan!" titahku kepada Mbok Ijah. "Biasanya jok mobil Mas Amar ada sedikit serbuk-serbuk kayu yang terbawa dari pabrik, Mbok. Mbok Ijah langsung bawa serokan biar serbuknya tidak berhamburan ya, Mbok!" titahku. Aku memberi arahan kepada Mbok Ijah karena yang biasanya bertugas membersihkan mobil adalah Pak Sukri. "Serbuk-serbuk kayu itu bisa membuat Shiena gatal-gatal jika tidak dibersihkan," imbuhku. "Ia, Nya!" Aku pun melanjutkan sarapanku tanpa menunggu Mas Amar menyelesaikan mandinya. Sarapanku tinggal separo saja. Akan tidak enak jika disantap dengan jeda yang begitu lama. Beberapa saat, Mbok Ijah masuk kembali dengan tangan kosong. "Sudah selesai, Mbok?" tanyaku memastikan. Tidak mungkin membersihkan mobil sekilat itu. Aku tidak mau ada sisa serbuk kayu yang nyatanya memang membuat kulit Shiena menjadi gatal-gatal. "Mobilnya bersih kok, Nya. Cuma banyak tisu bekas berserakan. Ada bekas merah-merah seperti bercak buat membersihkan gincu gitu, Nya! Mbok sapu. Dah selesai!" beber Mbok Ijah dengan wajah polosnya. "Tisu? Gincu?" Aku menggernyit. "Mbok buang dimana?" tanyaku penasaran. "Di bak sampah yang khusus untuk buang sampah anorganik, Nya. Di halaman belakang," terangnya kembali. Aku bergegas dari meja makan dan segera menghampiri tempat itu. "Bak sampah anorganik… Nah, itu dia," desisku. Aku mengecek tisu bekas bercak gincu yang dimaksud Mbok Ijah. "Nah, ini dia!" Aku ambil beberapa tisu yang sudah menggulung kusut itu tanpa rasa risih. Rasa risihku sudah terkalahkan oleh rasa penasaranku. Kubuka tisu-tisu itu. Kuangkat dan kulihat dengan jeli di depan mata kepalaku. "Bekas bibir bergincu! Bibir siapa?" gumamku. -BERSAMBUNG- Assalamuallaikum wr wb Mohon maaf kakak, jika berkenan, sila mampir ke akun saya untuk membaca lanjutan ceritanya. Cerita yang masih fresh baru saja diketik. Jika berkenan juga, sila baca cerbung saya satu lagi yang berjudul RANJANG BARU UNTUK MADUKU (Bab 48). Jangan lupa kakak follow akun dan follow cerbung saya. Semoga kakak dilancarkan rejekinya. Aamiin. Terima kasih, Kak. Wassalamuallaikum wr wb 🥰🙏
2