profile-image
0
Cerita
0
Joy
 

Fan board

Seo Raven
Halo, boleh engga mampir ke ceritaku yang "Dendam Cinta." Kalo mau feedback atau Fo;back juga bisa,
1
She Irma Suryani
Assalamualaikum kakak 😘🙏 Mari mampir dan baca cerita ku juga ya Kak "Di Talak 45 Hari Setelah Bayiku Meninggal"
1
Kinderjoy Estrin
Hallo, Kak. Aku izin promosi ya❤️ Cerita ini gratis di KBM & Joylada, kalau ingin baca selengkapnya bisa langsung ketik judulnya di aplikasi "Ditalak Di Pelaminan" ya. Terima kasih banyak🙏🏻 °°°°° “Apa salahku sampai aku ditalak di pelaminan?” Satu kalimat itu terus saja berputar dan mengacaukan isi fikiran Dahayu di setiap harinya, ia masih saja tidak menyangka jikalau hari pernikahannya itu justru memberikan sebuah derita yang baru baginya, bukan kebahagiaan.
1
asooka
haii kak 💙 salam kenal ya 🙏💖 support ceritaku yukk - Membalas Perlakuan Anak dan Menantuku (Harta membuat anak dan menantunya menjadi gelap mata, apa yang harus di lakukan Nasti?) -Apa Yang Terjadi Pada Hanumku? (Apa penyebab Hanum si gadis manis hingga menjadi penderita ODGJ?) terimakasih 💖🙏💖
1
sonyaaaaaa
hai kak, salam kenal 😊 aku sudah mampir... jangan lupa mampir juga ke ceritaku yaaa yaaa terimakasih 💕
1
Reffi Ninang Aryani
RANJANG BARU UNTUK MADUKU BAB 1 IJAB QABUL "Sah...?" "Sah...!" Alhamdulillah.  Hari ini adalah hari pernikahanku dan suamiku, Mas Farid. Tepat pada hari ini, tanggal dua, bulan dua. Hari bahagia kami berdua. Hari dimana dua insan manusia telah dihalalkan oleh negara dan agama.  Aku tunaikan janji pada diriku sendiri, di hari ini. Aku berjanji akan berusaha menjadi istri solikhah. Istri yang selalu patuh terhadap suaminya. Lain dari itu, aku juga akan menjadi menantu yang patuh terhadap Bapak dan Ibu mertuaku. "Jadilah seorang Istri yang selalu patuh terhadap suamimu, Min. Kamu juga harus patuh dan taat terhadap Bapak Ibu mertuamu. Hormati mereka seperti kamu menghormati almarhum ayahmu dan almarhumah ibumu," pesan Kakek kepadaku. "Ia, Kek. Semoga saya dapat istiqamah seperti yang Kakek inginkan," tuturku. "Baguslah! Kakek dan saudara-saudaramu pulang dulu. Kamu baik-baik disini!" imbuh kakek. "Nak Farid, jaga cucuku baik-baik. Sayangi dia! Ingat! Kamu harus bisa menjadi sosok suami sekaligus ayah bagi cucuku." Kakekku memastikan bahwa suamiku akan menjagaku sebaik mungkin, sembari sesekali ia menyeka sedikit air mata yang tak sengaja membasahi pipi keriputnya. "InsyaaAllah, Kek. Kakek tidak perlu risau. InsyaaAllah saya akan menjaga dan menyayangi Cucu Kakek. Doakan kami, semoga kami menjadi keluarga sakinah, mawadah, dan warahmah," tandas suamiku. Akhirnya Kakek pun berlalu dari rumah ini bersama rombongan yang ikut mengiringi acara ijab qabulku dengan Mas Farid.  Perlahan aku lihat langkah kaki Kakek pergi ke luar ruangan ini meninggalkanku. Disini. Di tengah keluarga ini. Keluarga baru untukku. Lelaki yang baru aku kenal tak lebih dari empat bulan saja. Kulihat Kakek menengokkan kepalanya ke arahku sebelum ia menghabiskan langkah kakinya dari ruangan ini sembari melempar senyum kepadaku.  Sebenarnya aku tak tega meninggalkan Kakek seorang diri di rumah. Tanpa siapapun. "Semoga Kakek selalu dalam keadaan baik-baik saja dan selalu dalam perlindungan-Nya," lirihku dalam hati. Mas Farid, suamiku, adalah seorang putra tunggal dari bapak mantan kepala desa yang disegani di desa ini.  Kebetulan kami dulu pernah menjadi santriwan dan santriwati di Pondok Al Islam yang berada di kota ini.  Mas Farid adalah seniorku. Namun, kami tak saling mengenal. Aku hanya tahu bahwa Mas Farid adalah seorang senior yang juga menjabat sebagai lurah pondok. Singkatnya, Mas Farid pernah menolong kakekku sewaktu Kakek pulang dari sawah.  Sepeda Kakek yang rusak, membuat Kakek harus pulang jalan kaki dengan memanggul hasil panennya. Dan pada saat itulah hati Mas Farid tergerak untuk mengantar Kakek pulang. Disitulah kami saling mengenal. Ya, kami cepat mengenal. Obrolan kami sangat nyambung, kala itu. Di hari itu saja dan tak lebih dari satu jam lamanya.  Tak lama kami ta'aruf. Bulan November kami bertemu di rumah. Bulan Desember Mas Farid berkunjung ke rumah dengan membawa banyak oleh-oleh. Mas Farid juga membeli bebek peliharaan kakekku dengan harga yang lebih. Mungkin hanya untuk basa-basi saja. Aku yakin, sejatinya waktu itu Mas Farid sedang mengincarku.  Singkatnya, bulan Januari Mas Farid meminangku dan bulan Februari kami menikah. Ya, tepat di hari ini. Alhamdulillah, ya Allah. Semoga kami dapat menjadi pasangan yang saling melengkapi satu sama lain. "Dek Minari, mari silakan duduk! Pasti kamu capek. Seharian duduk terus, pakai baju pengantin seribet ini, ditambah ndak makan apa-apa." Sahut Bapak mertuaku yang bernama Pak Tejo. Mantan Kades Desa Dadapan. Yang terkenal karena kebaikan dan kebijakannya.  "Sudahlah Pakne, biar! Nanti kalau capek juga pasti duduk! Ribut terus Bapak ini!" tukas Ibu mertuaku. Bu Sumirah. Yang lebih familier dipanggil Bu Tejo. "Anu aja, tamu sudah pada pulang. Ini saudara yang rewang-rewang biar ngeberesin semua gawean. Kamu bisa mandi juga makan. Ya! Makan! Harus makan! Dari pagi lho! Pasti lapar. Ayo, ayo! Ini lho Rid, istri kamu mbok ya diajak ke kamar. Kasihan!" Bapak mertuaku menyuruh kami untuk istirahat. Kulihat tangannya mengarah ke sudut pintu kamar Mas Farid yang ada di ruang belakang. "Ayo, Dek! Mas bantu jalan. Susah 'kan pakai baju pengantin seribet ini?" Mas Farid mencoba mencairkan keteganganku. Maklum saja jika aku setegang ini karena hari ini adalah hari pertama kali aku berdekatan dengan seorang laki-laki. Aku ikuti tawaran Mas Farid, suamiku. Aku berjalan menuju kamar suamiku dengan pelan. Tak lupa suamiku memapahku karena aku tak bisa leluasa berjalan dengan baju pengantin seribet ini. Dibukanya pintu kamar ini untukku. Aku lihat kamar suamiku sangat bersih. Maklum saja karena rumah suamiku terbilang cukup mewah yang ada di desa ini. Berbanding terbalik dengan rumahku. Rumah kayu sederhana. Namun, penuh cinta di dalamnya. Ya, cinta kakekku untukku.  Kakek luar biasa yang sudah banyak jasanya untukku. Kakek sekaligus ayah juga ibu. Kakek bilang, ayahku meninggal saat aku umur tiga tahun. Kala itu ayahku jatuh dari pohon kelapa karena menyadap nira. Sedangkan ibuku meninggal karena sakit saat aku berumur empat tahun. Disaat umur itulah, aku hidup bersama Kakek seorang diri. Tanpa Ayah juga Ibu. "Dek, itu kamar mandinya. Silakan kalau mau bersih-bersih badan!" "Ya, Mas." Aku menuju kamar mandi yang menyatu dengan kamar tidur ini. "Ohya, Mas. Handuk. Ada?" tanyaku dari dalam kamar mandi. "Oh, lupa. Di almari, ya! Almari putih," ucap Mas Farid. Kulihat tangannya menunjuk sebuah almari putih di sudut kamar ini. Aku bergegas keluar kamar mandi dan membuka pintu almari putih sesuai dengan arahan Mas Farid. "Banyak sekali baju perempuan", gumamku. "Ini–?" "Ia, itu baju kamu semua. Sudah Mas siapkan. Itu ada baju gamis, baju kurung, tapi nggak ada celana jins ya!" candanya. Mas Farid sangat faham jika alumni santriwati Pondok Al-Islam tak pernah berani memakai celana jins. Segera aku bergegas kembali menuju kamar mandi.  Kuambil shower yang tergantung pada gagangnya. Kusiramkan titik-titik air dingin ini pada tubuhku.  Segarnya mandi kali ini. Semoga setelah mandi nanti, tubuhku terasa lebih ringan dan nyaman. Betapa tidak, jam tiga dini hari aku sudah bangun dan siap untuk dirias. Jam tujuh pagi aku sudah bersimpuh di masjid untuk melaksanakan ijab qabul. Jam sembilan pagi aku sudah duduk manis di atas pelaminan sampai dengan jam empat sore.  "Sudah, Dek?" Kudengar suara Mas Farid dari luar kamar mandi memanggilku. "Jangan lupa wudlu sekalian, kita langsung Shalat Ashar," imbuhnya. Aku segera bergegas membilas tubuhku dan meraih handuk putih yang sudah aku siapkan tadi. Kupakailah gamis yang sudah dibelinya untukku.  "Alhamdulillah, pas sekali," desisku. Segera aku keluar kamar mandi dan menunaikan Shalat Ashar bersama suamiku.  Tok… tok… tok…! "Riiid, Fariiid!" Tiba-tiba aku mendengar suara Ibu mertuaku berteriak memanggil suamiku dari balik pintu. "Ya, Bu!" Suamiku berlari kecil untuk segera membukakan pintu itu. "Kamu ini, baru saja punya istri sudah ngumpet di kamar terus. Nggak keluar-keluar. Itu ada temanmu!" ketus ibu. "Ngumpet di kamar terus? Perasaan di kamar cuma mandi dan sholat. Astaghfirullah," lirihku. Sembari membuntuti suami keluar, hatiku berubah menjadi tidak karuan mendengar perkataan Ibu mertuaku tadi. Ah sudahlah. Mungkin hanya perasaanku saja. Aku berusaha menenangkan diri. *** Malam pun tiba. Ini malam kami berdua. Malam yang indah dimana kami berdua dapat meluapkan rasa cinta kami sebagai dua insan yang cintanya diridloi oleh Sang Maha Pemberi Cinta dan Maha Segala-galanya. Tak lupa malam ini kami awali dengan sholat berjamaah. Mas Farid menatapku dengan sayup mata yang berbinar sembari menyungging senyum manis untukku.  Entah apa yang aku rasakan. Tatapan mata suamiku membuat aku bergetar luar biasa. Tak kuasa aku menahan degupnya dada ini. Kusalami tangan Mas Farid seusai shalat dan ku ci-um punggung tangannya. Ditariknya kepalaku ke arah wajah suamiku yang tampan ini. Dici-umnya keningku dengan pelan dan penuh kehangatan. Tak terasa bulir air mata ini meleleh begitu saja. Menetes pelan membasahi mukena putih yang aku kenakan. Tak lupa Mas Farid memanjatkan doa untuk menunaikan kewajibannya malam ini bersamaku. Malam hangat yang penuh cinta dan kasih sayang yang luar biasa. Sungguh betapa indahnya malam ini kami lalui bersama berdua.  *** Tok… tok… tok…!!! "Farid!!! Bangun!!! Sudah jam lima  ini!!! Farid!!!" seru ibu. "Astaghfirullah!"  Mas Farid tersentak karena suara teriakan ibu mertuaku. "Astaghfirullah. Kita nggak dengar adzan Subuh, Mas," ucapku gagap. "Nggak apa-apa. Bangun, kita mandi langsung sholat." "Aku bukakan pintu Ibu dulu, Mas", ucapku. "Jangan! Biar aku saja. Kamu mandi aja sana!" Jawab suamiku sembari menggeliatkan badannya. Seketika Mas Farid membukakan pintu untuk Ibu. "Oh, Ibu. Ia ini saya sama Dek Minari sudah bangun, Bu. Dek Minari lagi mandi. Kami siap-siap mau Shalat Subuh dulu!" Aku dengar sayup-sayup suara suamiku dan Ibu mertuaku dari dalam kamar mandi. "Ini ya, Rid. Sebelum keterusen. Ibu mau bilang. Bilang sama istrimu itu! Adzan Subuh mbok ya udah bangun. Langsung ke dapur. Bantuin Ibu masak. Mana ada, menantu bangun siang terus Ibu mertua yang menyiapkan sarapan. Kuwalat sama orang tua itu namanya!" "Ssssstttt…. Ibu! Nanti Dek Minari dengar. Ini kan jam lima, Bu. Belum siang juga. Maklum juga, pasti dia capek. Seharian kemarin kan baru saja ijab qabul. Suruh duduk terus. Banyak tamu juga."  Aku dengar sayup-sayup suamiku membelaku di depan ibunya. "Ya Allah, aku merasa ini pertanda kurang baik untukku. Sepertinya Ibu mertuaku kurang menyukai keberadaanku. Atau mungkin sebatas perasaanku saja," desisku dalam hati. *** "Ibu, selamat pagi. Sini biar saya yang masak, Bu." Aku buka obrolan dengan Ibu mertuaku pagi ini di dapur. Semoga dapat mencairkan suasana yang kurang nyaman di pagi ini. Hari pertama aku berada di rumah ini. "Ndak usah!" Ibu menolak tawaranku. Ia juga tak mau melihatku sedikitpun. "Oh ia, Bu, apa saya bantuin yang lain?" balasku. "Kamu dengar, ndak usah! Orang sudah matang semua. Ini saya sudah masak dari jam empat pagi lho! Sebelum kamu bangun. Bapak Farid itu terbiasa sarapan pagi-pagi sekali. Jam enam, masakan harus siap semua di meja makan!" Ibu mertuaku menjelaskan kepadaku. Kali ini nada suaranya semakin meninggi. "Oh ia, maafkan saya ya, Bu! Biar saya bersih-bersih rumah saja. Besok insyaaAllah saya bangun lebih pagi." Braakkkkk…! "Ngejawab terus kamu, ya! Kamu mau beberes rumah? Lha gimana kamu itu! Kamu lupa, ini kemarin, orang-orang, saudara-saudara Farid ini sampai jam dua malam beberes rumah. Lha kamu mau beresin apa? Udah bersih semua!" Ibu menjawab tawaranku sembari melempar tutup panci besar itu ke arahku. Tak terasa bulir air mata ini keluar begitu saja. "Istighfar Minari, sabar Minari, sabar, istighfar," rintihku dalam hati. "Ada apa teriak-teriak, Bune? Ndak malu didengar tetangga. Ada apa?" Bapak mertuaku terlihat panik mendengar keributan dari arah dapur. "Ndak apa-apa!" seru ibu. "Kamu nggak papa 'kan, Min?" tanya Bapak mertuaku. "Enggak, Pak. Nggak papa kok, Pak." Aku menjawab pertanyaan Bapak sembari menyungging senyum kecil untuk meyakinkan keadaan pagi ini. "Ya sudah kalau baik-baik saja. Langsung sarapan saja. Itu Farid lagi lari-lari kecil di halaman rumah. Suruh masuk, diajak sarapan. Kamu juga sarapan. Jangan sampai telat makan. Nanti jadi penyakit. Ini ni, asam lambung kayak Bapak kamu ini. Perut sudah buncit gini, tambah asam lambung pula!" Bapak mertuaku mencoba mencairkan suasana dengan sedikit guyonannya. "Ohya, Min, kamu harus ingat, ini bapakmu punya penyakit asam lambung, kalau ibumu darah tinggi. Sukanya marah-marah terus. Untung cantik. Jadi Bapak suka. Kalau jelek, suka marah-marah ya bapakmu ndak mau sama ibumu. Ha ha ha!" Imbuh bapak mertuaku. Kulihat tawanya semakin keras mencoba merayu Ibu yang tengah merajuk. Entah lah apa sebabnya. "Situ!!! terserah kamu, Pakne!!!" Ibu menjawab dengan singkat. Aku tinggalkan dapur begitu saja. Aku ikuti saran Bapak mertuaku untuk menghampiri Mas Farid yang tengah berolah raga pagi di halaman rumah. "Mas sarapan, yuk," ajakku dari teras rumah. "Kamu masak apa?" Suamiku merespon ajakanku sembari mendekatiku dan merangkulku menuju meja ruang makan. "Ibu yang masak, Mas. Tadi aku masuk dapur, masakan sudah matang semua. Maafin aku ya, Mas," ucapku sedih. "Lho, kok minta maaf. Tidak apa-apa. Harusnya Mas yang minta maaf. Harusnya Mas bangun lebih awal terus bangunin kamu. Jadi kamu bisa bantuin Ibu masak. Dah, sudah. Lupakan! Besok bangun pagi, ya. Jangan goda Mas kalau di ran-jang. Bisa-bisa Mas teler dan bangunnya jam sepuluh lagi!" Suamiku menggoda sembari mencubit pipiku. *** "Bapak makan apa sini Ibu ambilkan. Mau tumis atau mau sayur sop saja?" tanya ibu. "Tumis saja, Bu. Yang banyak, ya. Nasinya sedikit saja!" jawab Bapak mertuaku. "Farid makan tumis apa sayur sop?" Kali ini aku lihat Ibu sengaja mendahuluiku untuk melayani Mas Farid. "Biar Minari saja, Bu. Mas Farid pasti suka tumis, 'kan? Sini aku ambilkan!" Kali ini aku memotong tawaran ibu untuk melayani suamiku. "Naaaa…. Mulai, 'kan?! Sok tahu ini istri kamu ini! Hei Minari, kamu tahu, ini saya masak dua menu. Satu sayur sop. Dua, tumis. Tahu nggak, Bapak sukanya sama sayur ditumis, tapi Farid ini nggak suka. Makanya ibu masak sop juga. Tu, kasih tahu istrimu ini!" Kali ini ibu menghardikku dengan suara yang sangat keras. "Bu, Ibu, tolonglah, Bu. Dek Minari ini baru kemarin sore lho tinggal di rumah ini. Ibu tu ya, kenapa? Maklum lah kalau Dek Minari ini belum tahu kebiasaan dan kesukaan Farid," sergah bapak. "Tahu lah! Ibu nggak jadi makan! Situ kalian bertiga makan sendiri!" Braakkkk!!! Ibu menuju kamar dan membanting pintu. -BERSAMBUNG- Nb. Assalamuallaikum wr. wb. Hai Kak, lanjutan cerita ada di akun saya, ya.. Cerita sudah sampai bab 67. Bila berkenan, mari mampir ke akun saya dan jangan lupa follow akun dan cerita saya.. Semoga Kakak dilancarkan rejekinya.. Terima kasih ❤️🙏 Wassalamuallaikum wr. wb.
1
Araya Noona
halo kak. Numpang promosi yah. Yuk baca ceritaku. 1. Terjebak pernikahan yang salah (tamat) 2. Sebatas Istri bayaran 3. Pengantin Pengganti Dijamin ceritanya seru dan bikin nagih deh. Gak percaya? Yuk langsung mampir aja🤗
1
Green.mom
Halo kak kalo berkenan boleh mampir di cerita saya judul nya 'Fly me to the moon' semoga suka ya kak. kalo suka jangan lupa like komen dan follow ya. terima kasih
1