profile-image
0
Cerita
0
Joy
 

Fan board

Isti Alfarizi
Hai kak, salam kenal... mampir ceritaku yuk, judulnya 'merindu buah cinta' Menceritakan kisah Firman dan Naya, sepasang suami istri yang lama tidak diberi keturunan dalam pernikahannya. Hadirlah, Sinta seseorang yang menjadi duri dalam rumah tangga mereka. yuk ikutin🥰🙏
1
Lifiana
Hai Kak, Lifi butuh support nih buat ikutan #JoyLoveInfinity, kalau berkenan mampir yuk di "PASUNG JIWA" genre Romance Horror. Kalau mau genre yang lain ada kak silakan intip 18 cerita Lifi, makasih 😊🙏.
1
Faida Risqiana
Assalamualaikum, salam kenal ya Kak, bila berkenan yuk mampir ke ceritaku, judulnya Kegagalan Membawa Berkah 🙏☺️
1
Mhd Akbar
Hi Kak! Perkenalkan saya Mhd Akbar Hasibuan, Jika berkenan mari mampir ke cerita saya dengan judul: 1. Aku Bukan Mesin ATM Pencetak Uang, Mas! sudah part 37. 2. Minta Mahar Jutaan Rupiah, Akhirnya Perawan Tua sudah part 28. 3. Aku yang Bekerja, Calon Suami yang Berfoya-foya status On Going dan sudah Part 11. 4. Kulawan Pengkhianatan Mereka dengan Diam-diam status On Going Sudah Part 22. 5. Kubuat Kamu dan Selingkuhan mu Menyesal status On Going sudah part 15. Bisa baca marathon karena free koin dan candy. Jangan lupa follow akun saya. Ikuti (gudangin) cerita saya, supaya mendapat notif kalau saya Up Part baru. Sekian dan terima kasih.
1
Eka Bigmama
halo, salam kenal kak, mampir ke ceritaku yuk 🐣kembalikan jantungku nanti aku readback ceritamu, tinggalkan jejak ya terimakasih🙏😊
1
Enik Yuliati
Salam kenal, kakak ❤️❤️❤️ Baca cerbungku, ya ? Ditunggu, 😊😊😊 HASRAT SANG PENGGODA Part 1. Siapa yang bersama Ibu mertuaku. Pov Ellinna Tengah hari yang teramat terik. Sang Surya memancarkan sinarnya, dengan segala keangkuhannya. Pun Bumi, dia hanya bisa berpasrah diri, ketika harus menerima radiasi yang lebih banyak lagi. Sungguh, badanku terasa pegal. Tulang-tulang pun berasa remuk semua. Hampir setiap hari hanya bisa berpasrah diri, ketika harus memanjakan suami yang sungguh teramat perkasa. Namun Mas Ali juga sangat mengerti dengan kelelahanku. Dia sering menyuruhku pulang, meninggalkan hiruk-pikuk ramainya toko. Pulang ke rumah, mencari tempat yang paling nyaman. Tidur siang di peraduan. Namun belum juga netra ini terpejam, samar-samar, kudengar suara perempuan dari arah dapur, sedang berbincang-bincang. Kupejamkan mata, berharap indra pendengaranku akan bisa menangkap getar-getar suara, dengan lebih baik lagi. Tidak asing lagi, itu suara Ibu mertuaku. Tapi dengan siapa, dia? Bukankah ini rumahku? Mengapa mereka ada di dapurku? Suara mereka terdengar semakin riang. ***** Aku memang punya dapur transparan yang cukup mewah, menurutku. Dapur dengan atap separuh kaca, dan dinding atasnya juga kaca. Bisa memandang pepohonan di taman belakang rumah. Jika kacanya di buka, maka akan terasa sejuk, ketika wajah tersapu oleh hembusan angin yang berdesir lembut, dari perkebunan di belakang rumahku. Dapurku juga di lengkapi dengan perabotan mewah, yang tertata rapi, meskipun belum semuanya pernah ku pakai. Dapur impian untuk semua perempuan. ***** Hati pun dilanda rasa penasaran. Kulangkahkan kakiku, turun dari peraduan. Lekas kusambar kerudungku, kupakai begitu saja. Tak lupa bercermin. Entah mengapa, setiap akan bertemu dengan Ibu mertuaku, aku merasa tidak percaya diri. Padahal suamiku selalu bilang, bahwa aku cantik. Dengan langkah pelan aku mendekati mereka. Namun sepertinya mereka tidak menyadari keberadaanku. Mereka terlalu asyik berkomentar, tanpa mengindahkan, bahwa Sang nyonya rumah, hanya berjarak sejengkal saja. Mereka terlalu asyik berbincang, saling bersahutan. "Dapurnya bagus ya, Bu? Coba aku punya dapur seperti ini. Pasti deh bakalan rajin memasak untuk Mas Ali. Tapi lihat deh Bu, perabotan ini seperti baru semua, tidak pernah dipakai. Pasti istrinya Mas Ali itu pemalas ya, Bu. Kasihan deh, Mas Ali, punya istri gak bisa masak." Perempuan itu terus saja mengoceh, sambil sesekali mengelus-elus peralatan masak di dapurku. Sesekali dia mengibaskan rambutnya. Lagaknya sudah seperti Nyonya di rumah ini. Bukan, bukan seperti Nyonya. Tapi meniru lagak chef yang ada di tv. Dia berjalan mengitari setiap sudut dapur ini. Aku masih setia, bersembunyi di balik pintu yang sedikit terbuka. Sesekali, aku bisa melihat wajah Ibu. Tampak jelas, bibirnya condong ke barat, ke timur, padahal wajahnya sedang menghadap ke utara. Mimik wajahnya sangat lucu. Dan perempuan itu? Kulihat wajahnya memang cantik. Rambut panjang terurai dengan cat pirangnya. Kulit putih, meskipun tidak seputih susu. Tinggi semampai, dengan tubuh yang proporsional. Dengan dada dan bokong yang besar. Ah, tapi tetap saja, aku lebih cantik tentunya. Coba deh, tanyakan ke Mas Ali. Dia pasti akan bilang, bahwa aku adalah yang tercantik. Aku harus percaya diri. "Kamu jangan khawatir, sebentar lagi juga kamu bakalan jadi ratu di rumah ini. Menggantikan mantuku yang mandul itu. Kita hanya harus pintar bersandiwara. Kamu mainkan peranmu secantik mungkin. Jangan sampai rencana kita berantakan. Rayulah Ali, sampai dia jadi milikmu. Berikan aku cucu. Ok?" Spontan, aku menutupkan telapak tanganku, menutupi mulutku, yang membentuk huruf o. What ? Mantu mandul? Ibu mertuaku bilang, mantu mandul? Ok, baiklah. Orang bodoh pun tahu arah pembicaraan mereka. Tak perlu menerka-nerka, aku sudah sangat paham. Sepertinya aku akan ikuti sandiwara mereka, dan akan kupastikan, mereka hanya akan jadi figuran saja. ***** Aku berjalan dengan anggun ke arah mereka. Kulengkungkan bibirku membentuk senyuman. Meskipun dadaku terasa bertalu-talu, meletup-letup tidak karuan. Kupamerkan senyum terbaikku. Memperlihatkan lesung pipi yang cukup dalam, dan gigi yang rapi, putih terawat. Akan aku tunjukkan bahwa aku adalah Nyonya di rumah ini. Aku adalah wanita yang dicintai oleh suamiku. Akulah, Nyonya Ali. Tak akan kubiarkan, orang lain merebutnya, meski nyawa taruhannya. Kupastikan, dia tidak akan bisa memiliki Mas Ali, meski hanya dalam dunia halusinasinya saja. "Eh, Ibu .... Kapan datang Bu? Nyuwun ngapunten, tadi saya ketiduran, jadi tidak tahu, kalau ada Ibu?" Kubungkukkan tubuhku, mencium pipi Ibu mertuaku. "Oh ... kamu di rumah ya? Kukira kamu pergi ke toko ... " Ucap Ibu mertuaku, sambil tersenyum menutupi kegugupannya. "Enggak, Bu. Saya sedang agak capek, jadi memutuskan untuk pulang siang ...." Jawabku, masih terus tersenyum menatap Ibu mertuaku. "Ellin, kenalin, ini namanya Dina. Dia yang mau bantu-bantu di rumah ini, biar kamu gak kecapekan. Kamu kan lagi program hamil, kan Sayang? Biar cepet jadi. Masak sudah lima tahun, kok gak jadi-jadi," gerutu Ibu. Ibu mertuaku pun tersenyum tidak kalah manisnya, sambil menyodorkan tangan gadis yang bernama Dina itu. Kami pun bersalaman. Sengaja, sedikit kuremas tangannya. Dan kusuguhkan senyum yang ... sedikit miring. Kupandang wajah Dina. Dia tersenyum canggung. Sepertinya dia bisa membaca gestur tubuhku. Sedangkan Ibu mertuaku masih tersenyum manis sekali. Gula pun, akan kalah manisnya, jika disandingkan dengan senyuman Ibu mertuaku. Orang lain pasti akan mengira, jika senyum itu tulus. Begitu pun aku, jika tadi tidak sempat menguping pembicaraan mereka, pasti aku pun akan tertipu. Mereka pantas di beri nilai seratus, untuk awal dari sebuah sandiwara yang mereka rencanakan. Pemain drama yang sangat ulung. Sungguh mereka layaknya duo serigala wanita, yang memakai jaket berbulu domba. Hanya saja mereka tidak sedang berjoget di atas panggung. Mereka sedang memata-mataiku. Aku tahu, itu. Mereka menunggu kelengahanku untuk merebut Mas Aliku. "Maaf, Bu, bukannya saya menolak, tapi di rumah ini, hanya ada saya dan Mas Ali. Sepertinya kami tidak butuh pembantu," elakku, dengan tetap santun. "Bukan pembantu, Ellinna, cuma bantu bantu .... Biar kamu bisa fokus mengurus toko, dan program hamilmu. Kamu kan tahu, Ibu sudah kepingin cucu dari Ali. Kamu belum juga memberikan. Kapan kamu akan hamil. Ibu sudah tidak sabar." Lagi dan lagi. Ibu menyinggung perihal kehamilan. Selalu dan selalu seperti itu. Perih yang kurasa. Namun sudah biasa. Aku terus mensugesti diriku sendiri. Aku lebih baik, aku lebih menarik, aku lebih dicintai, dan tentunya Mas Ali sangat tergila-gila denganku. "Baiklah Bu, jika itu yang Ibu inginkan, saya setuju saja. Tapi nanti ya, Bu? Ibu minta pendapat Mas Ali dulu .... " Sukses, mereka tersenyum, penuh kemenangan. Lihat saja, apa yang akan Mas Ali lakukan. Mas Ali tidak suka, jika ada orang asing yang tinggal di sini. Bahkan mas Ali rela mengepel lantai demi aku, agar tidak merengek meminta pembantu. Alasannya karena Mas Ali tidak suka jika ada yang mengganggu privasinya, jika dia sedang menginginkan aku. Mas Ali adalah tipe suami yang romantis, yang suka memanjakan aku di semua sudut di rumah ini. Di ruang tamu, di ruang makan, di meja dapur, di balkon, di kamar mandi .... Ah, Mas Aliku, entah mengapa, tiba tiba aku menjadi rindu .... Padahal tadi pagi, kami baru saja saling mereguk surganya dunia. Ah, indahnya menjadi pasangan halal .... ***** Siapa yang bisa menolak pesona Mas Ali. Wajah yang tampan rupawan, fisik yang sempurna, dan juga seorang laki-laki yang gila kerja. Laki-laki yang sangat ulet. Meskipun kami bukan orang kaya, tapi kami tidak pernah merasa kekurangan materi. Aku selalu merasa cukup, dengan semua pemberiannya. Rasa kantuk yang teramat sangat, menghilang sudah, menguap entah kemana. Berubah menjadi rasa kesal karena kedatangan mereka. Calon pelakor yang pura pura ingin menjadi babu. Silahkan, kamu bermainlah dengan peranmu sebagai babu, aku pun akan bermain dengan peranku sebagai ratu. Kamu salah masuk kandang, sayang... Jangan harap aku akan mengalah.
1
Wina Rahmania
Hai salam kenal. Mampir yuk kecerita aku, novel genre Romance Komedi FREE COIN DAN CANDY... 1 . Rivat dan Rania ( TAMAT) 2 . Di Ujung Rindu ( TAMAT) 3 . Sejak Bertemu Kamu ( TAMAT) ) Mari mampir, siapa tau suka ☺
1
galih2intan
hai kak, ikutin cerita aku yang berjudul "membalas penghianat" yuk,aku tunggu kritik dan saranya ya kak😉😉😉🙆
1